KULIAH KERJA NYATA (KKN) NUSANTARA IAIN PALANGKA RAYA KE JAYAPURA

11 Maret 2018 Penulis Abdul Khair

Untuk meningkatkan kwalitas mahasiswa maka sejak tahun 2017 sampai sekarang IAIN Palangka Raya melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan berbagai macam jenis, yaitu (1) KKN Lokal, (2) KKN Nusantara dan (3) KKN Internasional.

KKN lokal sampai sekarang sudah angkatan ke XXXI yang menjadi sasaran lokasinya adalah desa-desa yang ada di provinsi Kalimantan Tengah. KKN Nusantara sudah memasuki angkatan ke II,  wilayah yang menjadi sasarannya adalah desa-desa yang berada diluar provinsi Kalimantan  Tengah, dalam hal ini bekerja dengan Perguruan Tinggi lain, pada tahun 2018 ini KKN Nusantara IAIN Palangka Raya bekerjasama dengan IAIN Jember, STAIN Bengkalis Riau dan STAIN Jayapura. Untuk KKN Internasional juga sudah memasuki Angkatan II dan pada Tahun 2018 ini masih bekerjasama dengan lembaga Al Hikmah Malaysia sehingga mahasiswa akan ditempatkan di Serawak Malaysia.

Dari berbagai macam KKN ini yang paling menarik perhatian mahasiswa adalah KKN Nusantara Jayapura yang bergabung dengan mahasiswa STAIN Al-Fatah Jayapura. Ketika  dibuka pendaftaran banyak yang berminat, namun karena dana terbatas maka yang diterima hanya empat orang saja, masing-masing fakultas diwakili oleh satu orang saja.

Pelaksanaan KKN Nusantara Jayapura selama 40 hari yang dimulai pada tanggal 10 Maret 2018, namun mahasiswa sudah diantar pada tanggal 6 Maret 2018 karena terlebih dahulu mengikuti pembekalan dan pelepasan. Selama perjalanan ke Jayapura banyak hal-hal yang menarik terutama budaya  dan tradisi masyarakat setempat, untuk kami bagi-bagi dengan para pembaca.

  1. Gambaran Kota Jayapura

Rombongan kami berjumlah 6 orang yang terdiri dari  2 orang dosen pendamping yaitu bapak Harles Anwar dan bapak Abdul Khair, ditambah mahasiswa sebanyak 4 orang yaitu M. Said Malik, M. Amin, Akhmad Fakhri Hasan, Widya Silfiana Sari. Kami tiba di Bandara Sentani pada pukul 06.05 waktu setempat tanggal 7 Maret 2018.

Begitu keluar bandara, subehanallah. Pemandangan yang sangat indah, tidak salah kalau Jayapura disebut bumi seribu gunung. Rasa lelah berubah menjadi senang. Sepanjang jalan menuju STAIN Jayapura, seolah mata saya tidak bisa berkedip, disebelah kiri gunung sepanjang jalan, disebalah kanan danau Sentani.

Luas wilayah Kota Jayapura 940 KM² atau 94.000 ha atau 0,23% dari luas seluruh daerah Provinsi Papua yang terdiri dari 4 (empat) Distrik yaitu Distrik Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura dan Muara Tami yang terdiri dari 11 Kampung (dulu Desa) dan 20 Kelurahan. Sebagian lahan di Kota Jayapura adalah merupakan hutan yaitu seluas 4.967 ha. Kesesuaian lahan untuk pembangunan di Kota Jayapura dikelompokkan ke dalam Kawasan Budidaya (14.220 Ha) dan Kawasan Non Budidaya (79.780 Ha) serta pemukiman dan lain-lain.

Dengan kemajuan pembangunan yg telah di capai Kabupaten Jayapura, serta luasnya wilayah pelayanan dan kompleksnya permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, maka pada Tahun 1979 dibentuk Kota Administratif Jayapura yang kemudian ditingkatkan statusnya dengan undang-undang nomor 6 Tahun 1993 menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Jayapura.

Berdasarkan pengamatan saya selama lima hari berada disini lalu lintas cukup padat, ini artinya masyarakat semakin sejahtera. Namun  tingkat kesadaran untuk mentaati lalu lintas masih perlu ditingkatkan, misalnya penduduk asli Jayapura sering tidak memakai helim, menurut teman saya yang asli Jayapura bahwa polisi tidak berani menindak orang asli Jayapura yang melanggar lalu lintas.

  1. Tradisi makan sirih pinang

Sepanjang jalan di Jayapura banyak orang berjualan buah pinang, namun buah pinang disini kecil-kecil jika dibandingkan dengan yang sering kita temui di Palangka Raya, dan warnanya hijau. Kebiasaan masyarakat Jayapura adalah makan sirih pinang, menurut penjelasan teman saya yang asli Jayapura, bahwa jika kita bergaul dengan warga disini akan cepat diterima kalau kita sambil makan sirih pinang.

Ketika saya berkunjung ke rumah orang asli Jayapura sewaktu menyerahkan mahasiswa KKN dengan warga masyarakat di desa Arso IX,  saya pun ditawari makan sirih pinang.  Rasanya agak pedas  karena juga dicampur dengan kapur. Setelah lama dikunyah-kunyah warnanya jadi  merah kemudian diludahkan. Dipinggir-pinggir jalan sering ditemukan di trotuar warna merah, sehingga dibeberapa tempat ada ditemukan tulisan peringatan “Dilarang meludahkan sirih pinang ditempat ini”.

Dampak positif makan sirih pinang ini adalah sebagai pengganti merokok, sehingga orang asli Jayapura jarang  merokok dan penjual rokok pun sulit ditemukan disini. Lebih banyak penjual pinang daripada penjual rokok. Udara jadi bersih dan tidak ada polusi udara.

Menurut penjelasan Imron, seorang pemuda asli Jayapura, dipandang dari ilmu kesehatan bahwa makan sirih pinang  dapat menguatkan gigi. Disamping itu bagi wanita dapat berfungsi sebagai ramuan sari rapat, sedangkan bagi laki-laki dapat berfungsi untuk meningkatkan stamina atau kejantanan.

  1. Banyak obyek wisata

Banyak obyek wisata yang ditawarkan di kota Jayapura, seperti danau Sentani, pantai Base-G, Jayapura City, Pantai Pasir Dua, Yacoba, pegunungan Cycloops, Taman Mesran dan sebagainya. Namun karena kesibukan saya mendampingi mahasiswa mengikuti pembekalan KKN di STAIN al-Fatah Jayapura, saya hanya sempat menikmati keindahan danau Sentani saja.

Danau Sentani adalah salah satu objek wisata yang sangat dikagumi banyak orang yang pernah melihatnya. Luas danau Sentani 110 KM / 9.360 hektar, di dalamnya terdapat beberapa buah pulau kecil. Saya benar-benar terpukau  melihatnya. Sentani sesuai dengan artinya “disini kami tinggal dengan damai”, letaknya berada di bawah lereng pegunungan cagar alam Cycloops. 

Menurut penjelasan masyarakat setempat danau Sentani dulu dibagun oleh Jepang, dan pada tahun 1944 diambil alih oleh Angkatan Darat Amerika, menurut catatan sejarah Jenderal MC Arthur pernah tinggal disini.

Sayang sekali saya berada di danau Sentani pada bulan Maret, padahal setiap bulan Juni diadakan festival danau Sentani berupa atraksi tari perang di atas perahu, tarian tradisional lainnya yaitu tarian khas papua, upacara adat dan wisata kuliner, juga ditampilkan peragaan proses pemilihan kepala suku adat.

Kami menyewa perahu kecil untuk mengelilingi danau ini, dan tidak lupa juga mampir di pasar Hamidi yang menjual benda-benda khas Papua dan motif khas danau Sentani dan kain kulit kayu.

Selama lima hari saya berada di Jayapura, rasanya belum puas untuk menikmati keindahan alam. Masih banyak tempat yang belum sempat saya kunjungi, mudahan suatu saat bisa berkunjung kesini lagi.

Penulis bersama Tentara Papua Nugini

Maret 29, 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *